Rabu, 26 November 2014

VISI MISI

VISI :

Membangun lingkungan islami, serta berprestasi dalam sains teknologi.

MISI :


1.    Menupuk keimanan terhadap ajaran islam.
2.    Melaksanakan Pembelajaran dan Bimbingan yang qurani.
3.    Mewujudkan Prestasi Setiap Siswa dalam bidang sains tekhnologi
4.    Mengembangkan manajemen sekolah dengan berlandaskan islam.

Benteng Keimanan

Ada seorang pakar, seorang ulama dari Smarkhan yang menyatakan: “Perumpamaan iman itu bagaikan sebuah negeri yang dibentengi oleh lima buah benteng, karena itu selama benteng-benteng ini tetap kokoh/kuat maka iman masih tetap jaya”. Apakah yang dimaksud dengan benteng-benteng tersebut? Yang sangat dekat kepada iman itu adalah benteng yang seharusnya paling kuat adalah keyakinan, akidah. Oleh sebab itu, mari kita melakukan evaluasi terhadap akidah kita. Apakah akidah kita masih terkontaminasi dengan kepercayaan, keyakinan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan mistis dan magis yang bisa memberikan kemanfaatan dan menolak kemadaratan? Hal ini perlu dipertanyakan, karena negeri kita mantan negeri Hindu bahkan negeri animisme dan sisa-sisanya masih banyak dipertahankan.

Kepercayaan terhadap kekuatan benda itu sangat disambut oleh iblis. Anak buah mereka biasanya bermukim pada benda itu/ tinggal disitu, sehingga benda yang dianggap memiliki tuah yang tinggi itu harganya bukan kepalang. Orang sunda mengatakan mugusti tidak apa tapi migusti itu yang dilarang. Menyimpan hanya sekedar kenang-kenangan tidak apa-apa, tapi kalau diyakini dia bisa menarik manfaat dan menolak madarat, ini yang mengganggu akidah. Ada keris yang bisa berdiri atau benda pusaka yang lain dari berbagai negeri kita, misalnya rencong, kujang, badik dan lain sebagainya juga termasuk bebatuan bahkan tulisan-tulisan yang dianggap bisa memberikan manfaat. Tulisan-tulisan yang disebut aofak yang ditulis oleh tinta jafaron yang kayanya akan begini dan begitu dengan niat tabarruk.

Apakah betul kalimat yang diucapkan oleh lidah akan sesuai dengan hati. Lidah boleh mengatakan tabarruk tetapi hati tawakal, ini yang berbahaya. Karena beda antara tabaruk dengan tawakal, kepada badan Rasulullah boleh kita bertabarruk dengan rambutnya. Di zaman Rasulullah saw ketika beliau bertahalul, bercukur rambut, para sahabat sibuk mengumpulkan rambut-rambut rasulullah dan rasulullah tidak melarang. Karena Rasulullah telah menerangkan: setiap lembar daripada tubuhku adalah mengandung keberkahan, tapi itu berkah bukan mistis dan magis. Begitu Rasulullah meninggal, ketika Abu Bakar As Siddiq menjadi khalifah, beliau bercukur rambut dan berjatuhan rambutnya tak seorangpun yang mau melihatnya. Jadi pada diri Rasulullah ada berkah dan banyak orang-orang tabarruk terhadap benda-benda yang katanya dari ulama, tasbihnya, tulisannya, aufaknya dan sebagainya tetapi bukan tabarruk melainkan tawakal. Sedangkan tawakal itu hanya kepada Allah.

Kalau kita masih ada, menyimpan benda-benda yang diyakini memberikan kekuatan membantu kehidupan kita, berarti di samping Allah ada yang ikut mengurus nasib ini, namanya syirik rububiyah. Apakah ada di antara kita yang suka melepun-lepun di kuburan dengan maksud memohon kepada kuburan? Ini lebih besar bahayanya. Banyak orang yang berdoa kepada Allah di atas kuburan seseorang yang dianggap sakti dengan alasan supaya proses ijabah doa akan cepat dikabulkan berkat sohibul makobir, yang keluar dari lidah tawasul, tetapi bukan seperti itu tawasulnya, itu membuat perantaraan. Sama dengan para bangsawan ataupun orang-orang Arab jahiliyyah dahulu ketika ditanya oleh Rasulullah “Kenapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa berbicara, tidak bisa mendengar? Mereka mengatakan : Kami menyembah mereka itu agar mendekatkan diri kami dengan Allah melalui mereka”. Allah menyatakan “iyyaka na’budu waiyaka nasta’in” yang artinya “Hanya Engkaulah (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Ini jahiliyyah modern, ini namanya syirik uluhiyah yang artinya meminta-minta atau tidak meminta-minta tetapi menjadikan perantara kepada seseorang ataupun yang sudah tidak ada atau telah tiada. Keyakinan yang bersih, bertaufik, lurus pada Allah SWT, inilah yang akan mengantarkan diterimanya seluruh pengabdian seorang mukmin kepadaNya.

Kedua, yang membentengi iman kita adalah keikhlasan. Artinya niat yang ikhlas. Di dalam surat Al Bayyinah. Ada tiga unsur yang dikemukakan oleh Allah sebagai modal beribadah yang akan diterima. “Tiadalah kami memerintahkan kepada mereka kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu dengan ikhlas, sesuai dengan aturan agama”. Jadi unsur ini kita sebut sebagai ikhlas, sowab, hanif. Ikhlas murni niatnya karena Allah, sowab sesuai dengan contoh yang diberikan Rasulullah dan Hanif kecenderungannya hanya kepada satu yaitu ridho Allah. Mari kita kontrol, evaluasi tentang niat-niat kita keseharian dalam ibadah apapun, amal apapun termasuk kita mengajar, bekerja dan sebagainya, apakah sudah seperti itu gambarannya?

Ketiga, benteng yang akan mempertahankan kerajaan iman kita adalah kefardhuan. Mari kita soroti kefardhuan yang kita lakukan dalam keseharian satu tahun ini, adakah kefardhuan itu telah unggul lebih dari kefardhuan yang berkaitan dengan urusan duniawi walaupun itu penting. Seperti shalat fardhu, puasa fardhu, haji yang fardhu sifatnya, mengurus anak yatim, mengurus anak dan istri, menyekolahkan mereka, itulah kefardhuan dan mencari ilmu agama itu fardhu ain bukan fardhu kifayah. Yang fardhu kifayah itu mencari ilmu pengetahuan umum, artinya tidak setiap orang mukmin harus ngerti astronomi, fisiologi, biologi, fisika. Tapi setiap mukmin harus mengerti agama (fardhu ain), bila tidak ada kesempatan seolah-olah kita tidak menyempatkan diri untuk menambah pengetahuan keagamaan ini karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi, itu berarti kita telah melupakan kehidupan yang hakiki yaitu akhirat. Oleh sebab itu, targetkan akhirat itu adalah kehidupan sebenarnya bagi kita.

Apakah kefardhuan shalat itu tetap kita lakukan dengan berjamaah atau tidak? Andaikan berjamaah, berarti kita terbebas dari sikap orang-orang munafik dan fasik. Sebab orang-orang yang tidak melakukan shalat berjamaah, walaupun shalat, itu termasuk golongan orang-orang munafik amali. Nabi pernah menyatakan “sesungguhnya shalat berjamaah yang paling berat untuk orang munafik adalah shalat berjamaah subuh dan isya”. Pernah dikuiskan kepada para sahabat, siapa yang sanggup shalat semalam suntuk? Tidak ada yang angkat tangan. Kalau kalian tidak sanggup tolong pelihara shalat berjamaah subuh, karena itu nilainya sama dengan shalat semalam suntuk. Siapa yang sanggup shalat setengah malam suntuk? Masih tidak ada yang sanggup. Andaikan kalian tidak mampu untuk shalat setengah malam, pelihara shalat berjamaah isya karena nilainya sama dengan shalat setengah malam suntuk. ini juga untuk bahan evaluasi kita, apakah kita termasuk munafik itu? tergantung kepada dua jenis shalat berjamaah kedua ini. Andai kata masih berat, mari kita perbaiki mudah-mudahan tidak terulang lagi. Begitu juga dengan ilmu agama, orang yang menyepelekan ini termasuk orang yang akan menyesal nanti di akhirat. Orang yang paling menyesal adalah mereka yang banyak kesempatan untuk mencari ilmu pengetahuan agama ketika hidup di dunia tetapi tidak digunakan.

Benteng yang berikutnya adalah kesunnahan. Sunnah-sunnah ini benteng yang keempat yang akan melengkapi kefardhuan kita. Apakah itu baca Quran dan dzikir, silaturahim, berdoa kepada Allah SWT. Jadi begitu kita selesai shalat fardhu, apabila ada shalat ba’diyah jangan ditinggalkan, untuk menambali shalat fardhu yang banyak sekali lupanya kepada Allah. Begitu juga shalat yang paling istimewa setelah fardhu adalah tahajud dan shalat dhuha. Mudah-mudahan akhlak yang kita akan tampilkan kedepan adalah akhlakul karimah.

Oleh, Dr. K. H. Bakhrul Hayat, M.Ag.

Metode Pendidikan Qurani Dalam Mengatasi Demoralisasi Dikalangan Remaja

Al-Quran adalah firman Allah dan sebagai kitab suci bagi ummat Islam. Di dalamnya berisi petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan atas petunjuk itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Semakin dalam kita mempelajari  isinya semakin menarik kita pelajari. Tony Blair, mantan Perdana Menteri Inggris menyatakan “saya sekarang membaca Quran setiap hari”.

Al-Quran bagaikan samudra yang amat luas yang tidak akan pernah kering. Semakin dalam kita menyelaminya semakin banyak mutiara yang kita peroleh. Itulah salah satu ciri kemukjijatan Al-Quran. Banyak Orang Barat yang mempelajari Al-Quran sebagai objek penelitian atau hanya sebagai ilmu pengetahuan saja, namun tidak dapat disangkal, banyak diantara mereka justru tertarik dan masuk Islam karena telah banyak membaca dan mempelajari Al-Quran. Mudah-mudahan Tony Blair juga setelah mempelajari Al-Quran dia diberi hidayah oleh Allah untuk masuk Islam.

Sebagai petunjuk bagi manusia dalam segala hal. Al-Quran menjamin bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan manusia tidak ada yang terlewatkan. Sebagaimana firman Allah: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab”. (QS. Al An’aam [6] : 38). “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(QS. An Nahl [16] : 89). Dari kedua ayat tersebut dapat dipahami bahwa Al-Quran telah menawarkan sejumlah konsep yang berhubungan dengan segala kebutuhan manusia. Dalam dunia pendidikan, Al-Quran menawarkan berbagai alternatif model dan metode dalam pembinaan akhlak atau moral khususnya bagi para remaja yang dewasa ini sedang marak dibicarakan.

Masalah moralitas di kalangan remaja di Indonesia dewasa ini, khususnya di kalangan siswa dan mahasiswa sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi, bahkan sudah menjadi problema umum yang belum ada jawabannya. Mengapa para siswa, sejak SLTP,  bahkan SD, sudah banyak yang mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan berbahaya lainnya?. Mengapa para siswa tampak mudah marah dan sangat agresif, sehingga gampang tersinggung dan dengan mudahnya terjadi tawuran di mana-mana ?. Mengapa para siswa begitu bebas bergaul dengan lawan jenis tanpa risi dan malu? Dan mengapa para siswa sekarang ini sepertinya kurang, malah tidak hormat pada orang dewasa, bahkan terhadap orangtuanya sendiri sekalipun?.

Pertanyaan-pertanyaan di atas memicu bebagai spekulasi dan tentunya perlu diuji kebenarannya. Misalnya, apakah telah terjadi “mal-edukasi” baik di sekolah ataupun di lingkungan keluarga? Atau, malah memang sekolah dan keluarga dewasa ini tidak melaksanakan fungsi edukatif, yang terjadi hanyalah “transfer of knowledge”? Atau, malah lebih jauh lagi, baik sekolah ataupun keluarga dewasa ini, apakah memang “abai” terhadap pendidikan? Ada juga yang mempertanyakan di luar lingkup pendidikan, yang seolah-olah mengasumsikan bahwa telah terjadi pendidikan (yang benar) tapi ada sistem lain di luar pendidikan yang mengganggunya. Misalnya pertanyaan berikut: Apakah nilai dan norma pergaulan para siswa sekarang ini sudah berubah, sehingga segala aturan (negara, masyarakat, keluarga, dan bahkan agama) yang dirasakan menghambat “kebebasan” mereka abaikan begitu saja?.

Pertanyaan di atas sah-sah saja selama ada landasan dan dasar argumentasi teoritik ataupun empiriknya. Dari segi pendidikan ada satu persoalan yang patut dipertanyakan, yaitu apakah para guru telah melaksanakan pendidikan dengan benar? Kriteria “benar” dalam pertanyaan ini dapat kita telusuri  dari teori-teori pendidikan. Teori pendidikan, misalnya saja menyebutkan, bahwa guru hendaknya menjadi teladan bagi para siswa dan masyarakatnya. Pertanyaan kemudian muncul: Apakah para guru sekarang ini sudah dapat menjadi suri-tauladan?, pertanyaan ini patut dipertanyakan sehubungan dalam pemberitaan di media massa bahwa akhir-akhir ini disebutkan adanya sejumlah kasus pelanggaran moral menimpa para guru. Tentu saja peristiwa-peristiwa ini tidak menggambarkan keseluruhan guru, namun kejadian-kejadian serupa sebenarnya ada di mana-mana. Dan untuk menjadikan guru sebagai suri tauladan memang bukan perkara yang mudah, karena akan menyangkut sistem yang lebih luas mulai dari seleksi mahasiswa keguruan, pendidikan keguruan, seleksi guru, hingga pendidikan yang bersifat in-service bagi para guru. Tapi ada teori pendidikan lain yang justru dapat dilakukan oleh semua guru, yaitu bahwa pendidikan itu perlu dilakukan dengan menggunakan “metode-metode” pendidikan yang tepat.

Dunia Islam sebenarnya memiliki sejumlah metode pendidikan yang sudah teruji keampuhannya. Guru-guru kita tampaknya, jangankan menerapkan teori-teori yang dimaksud, malah mengetahuinya saja jangan-jangan belum pernah. Seperti kita ketahui, guru-guru di sekolah masih sangat dominan menggunakan metode kuliah (ceramah) dan tanya jawab. Tentu saja kita tidak bermaksud menyalahkan metode konvensional ini. Hanya saja, metode-metode pendidikan unggulan, dalam hal ini metode-metode Qur’ani, kiranya perlu diketahui dan digunakan dalam pembelajaran di sekolah atau di perguruan tingi.

Dalam kajian ilmiah, Al-Qur’an bukan hanya sebagai Kitab Suci bagi umat Islam, melainkan Kitab Ilmu Pengetahuan yang dapat dikaji dan diterapkan kebenarannya bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Para pakar dari berbagai agama telah banyak yang mencoba menelaah sisi-sisi ilmiah dari Al-Qur’an, dan terbukti banyak di antara mereka yang menemukannya. Sebagai contoh, Maurice Bucaille (Prancis) menemukan sejumlah segi ilmiah Al-Qur’an di bidang kedokteran. Toshihiko Izutsu (Jepang) menemukan  etik-etik religius Qur’ani yang memang bersifat universal. Dan Anne Maria Schimmel (Jerman) menemukan kebenaran mistik-mistik Islam yang bersifat universal.

Para pakar pendidikan Islami, sejak Rasulullah Saw hingga para ulama pewaris Nabi di masa pertengahan, telah menjalankan pendidikan dengan mengacu pada petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Generasi teladan pun memang tercipta, berkat keteladanan para pendidikan dan ketepatan metode pendidikan. Abdurrahman An-Nahlawi, ulama terkemuka dan pakar pendidikan dari Mesir, kemudian menyusun sebuah karya monumental tentang metode-metode pendidikan Qur’ani. Disebutkannya, bahwa Al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi kehidupan, termasuk petunjuk bagi pengembangan dalam dunia pendidikan. Mengapa para pendidik pada generasi terdahulu cukup berhasil membimbing, mengarahkan dan menanamkan  nilai moral dalam kehidupan para pelajar ?, dijawab oleh An-Nahlawi, karena mereka menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani. An-Nahlawi mengajak kita, para pendidik, untuk menengok kembali dan menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani yang sudah lama kita tinggalkan.

An-Nahlawi mengungkapkan delapan model pendidikan Qur’ani, yang masing-masing memiliki keunggulan. Sebagai misal, “Targhib-Tarhib”, sangat tepat untuk menanamkan nilai kesucian diri dan menghindari pergaulan bebas, menjaga makanan-minuman yang halal serta menghindari yang haram dan subhat, dan persoalan-persoalan lain yang serupa. Model ini akan membuat para siswa sangat takut melakukan perbuatan-perbuatan yang haram dan yang subhat, dan sebaliknya akan sangat senang melakukan perbuatan-perbuatan yang justru dianjurkan. Para siswa yang dididik  dengan model targhib-tarhib ini akan sangat takut mengkonsumsi segala makanan-minuman yang haram, seperti narkoba, dan sebaliknya hanya akan memilih makanan-minuman yang halal; mereka pun akan sangat takut mendekati perzinaan, dan sebaliknya mereka akan menjaga kesucian dirinya; dan sebagainya. Model lainnya,  “Hiwar”. Model ini sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai akhlaqi, seperti penghormatan terhadap orangtua dan guru, membangkitkan motivasi belajar, dan menanamkan ketaatan beribadah. Model “Qishah Qur’ani” sangat tepat untuk menanamkan nilai kebanggaan beragama dan keyakinan yang penuh terhadap kebenaran Al-Qur’an. Model “Uswah Hasanah” sangat tepat bagi penanaman nilai-nilai keteladanan guru pada murid di berbagai jenjang pendidikan terutama dalam membina akhlak.

Oleh : Dr. H. Syahidin, M.Pd